Yang mengesalkan :
- berangkat dan pulang selalu berdesakan,
- berdiri dari Stasiun Citayam sampai Stasiun Juanda (juga sebaliknya),
- pedagang asongan, yang walaupun tahu sudah berdesakan tapi tetap saja memaksa lewat,
- bau keringat, bayangkan saja gerbong berkapasitas 50, diisi 150 orang! Jadi walaupun sudah rapi dari rumah, tetap saja sampai kantor keringetan..
- bau mulut, bisa karena lupa gosok gigi, atau tertidur sehingga saat bangun mulut jadi tidak sedap. Aroma mulut bertambah parah saat bulan puasa, apalagi saat pulang kantor! mau pingsan mencium baunya..
- jadwal yang tidak jelas, kadang kereta pagi berangkat siang, kadang kereta pagi datangnya kepagian..
- kalau pas berangkat kerja berdesakanmya dengan cewe, dapat mencium wangi parfumnya atau menciun wangi shampoonya,
- barang murah, barang dagangan di kereta memang bukan kwalitas no. 1, karenanya harganya murah. Koran pagi dijual sore harganya 500 rupiah,
- Karcis jarang (lebih tepat : tidak pernah) diperiksa,
Akibatnya penumpang setia KRD ekonomi menjadi lebih berdesakan, kalau mereka tidak mau menggunakan KRD bisnis ekonomi
Ada satu hal yang membingungkan saya saat menunggu KRD, yaitu penamaan jalur KRD.
Di Stasiun Tebet, jalur 1 untuk KRD jurusan Jakarta - Bogor, dan jalur 2 untuk KRD jurusan Bogor - Jakarta. Tapi di Stasiun Cawang, justru terbalik, jalur 1 untuk KRD jurusan Bogor - Jakarta, dan jalur 2 untuk KRD jurusan Jakarta - Bogor.
Kok, bisa begitu ya? Gak kompak nih..




Tidak ada komentar:
Posting Komentar