Jumat, 19 Juni 2009

Tentang KRD JABOTABEK

Membicarakan KRD JABOTABEK, mengingatkan masa lalu saya sewaktu tinggal di Citayam - Depok. Berangkat kerja jam 6.00 pagi, supaya bisa naik KRD yang berangkat dari Stasiun Citayam jam 6.30. Pulang kerja jam 17.00 sore, sampai di Stasiun Citayam jam 19.00 malam.

Yang mengesalkan :
  1. berangkat dan pulang selalu berdesakan,
  2. berdiri dari Stasiun Citayam sampai Stasiun Juanda (juga sebaliknya),
  3. pedagang asongan, yang walaupun tahu sudah berdesakan tapi tetap saja memaksa lewat,
  4. bau keringat, bayangkan saja gerbong berkapasitas 50, diisi 150 orang! Jadi walaupun sudah rapi dari rumah, tetap saja sampai kantor keringetan..
  5. bau mulut, bisa karena lupa gosok gigi, atau tertidur sehingga saat bangun mulut jadi tidak sedap. Aroma mulut bertambah parah saat bulan puasa, apalagi saat pulang kantor! mau pingsan mencium baunya..
  6. jadwal yang tidak jelas, kadang kereta pagi berangkat siang, kadang kereta pagi datangnya kepagian..
Yang menyenangkan :
  1. kalau pas berangkat kerja berdesakanmya dengan cewe, dapat mencium wangi parfumnya atau menciun wangi shampoonya,
  2. barang murah, barang dagangan di kereta memang bukan kwalitas no. 1, karenanya harganya murah. Koran pagi dijual sore harganya 500 rupiah,
  3. Karcis jarang (lebih tepat : tidak pernah) diperiksa,
Tapi sekarang sudah berubah (bertambah parah), karena pemerintah DKI mengurangi frekwensi KRD ekonomi dan diganti dengan KRD bisnis ekonomi yang ber-AC, dengan perbandingan 3 : 1, dan dengan harga karcis 3X harga karcis ekonomi.
Akibatnya penumpang setia KRD ekonomi menjadi lebih berdesakan, kalau mereka tidak mau menggunakan KRD bisnis ekonomi
.

Ada satu hal yang membingungkan saya saat menunggu KRD, yaitu penamaan jalur KRD.
Di Stasiun Tebet, jalur 1 untuk KRD jurusan Jakarta - Bogor, dan jalur 2 untuk KRD jurusan Bogor - Jakarta. Tapi di Stasiun Cawang, justru terbalik, jalur 1 untuk KRD jurusan Bogor - Jakarta, dan jalur 2 untuk KRD jurusan Jakarta - Bogor.
Kok, bisa begitu ya? Gak kompak nih..


Kamis, 18 Juni 2009

Manohara VS Cinta Laura

Sekarang Cinta Laura Kiehl bukan satu-satunya artis yang memakai bahasa gado-gado, campuran Indonesia - Inggris. Kini ada pesaingnya yaitu the rising star : Manohara Odelia Pinot!

Kalau tidak mau tersaingi, sebaiknya Cinta lebih kreatif mencari gado-gado campuran bahasanya. Mungkin bisa dicoba dicampur bahasa German, bahasa Spanyol atau bahasa Sunda.

Kita tunggu saja, siapa tahu Cinta ngomongnya jadi seperti ini :
"Really, Ich bukannya eingebildet, but kalau memang sie can do that, mangga wae..

Rabu, 17 Juni 2009

Kesucian Masjidil Haram

Banyak artis yang menikah di Masjidil Haram Mekah, umur pernikahannya tidak berlangsung lama. Sebut saja Tamara Bleszynski, Paramitha Rusady, dan yang terbaru Cici Paramida.
Apakah hanya menimpa artis? Saya yakin, tidak!
Lalu, apa yang salah dengan menikah di Masjidil Haram?
Yang salah adalah orang yang melakukan pernikahan tersebut.

Masjidil Haram adalah tempat yang sakral. Tidak sembarang orang dapat mengunjunginya dan melihat kemegahannya.
Menikah adalah hal yang sakral. Tidak semua orang sanggup mengambil keputusan untuk melakukan pernikahan dan menjalaninya.
Menyatukan dua kesakralan, seharusnya disadari akan mempunyai konsekuensi yang tidak ringan. Dan apabila tidak sanggup menjalankan konsekuensinya, sama saja dengan melakukan penodaan secara berganda.

Menikah saja sudah merupakan hal yang mulia, apalagi dilakukan di tempat yang sangat mulia, seperti Masjidil Haram, tentu sangat menambah kemuliaan pernikahan tersebut.
Menodai ikrar pernikahan yang dilakukan di depan Ka'bah, sama saja dengan menodai ikrar suci yang ucapkan dihadapan Allah SWT.

Oleh karenanya,
Kalau ingin menikah, sadarilah dahulu makna pernikahan.
Sucikah niat kita
menjalankan pernikahan?
Kalau ingin menikah di depan Ka'bah, sadarlah diri dulu.
Sucikah hati kita di hadapan Allah SWT?

Bacalah!

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering merasa terlalu cepat mengambil kesimpulan atas apa yang kita alami. Misalnya, pegawai yang di-PHK merasa inilah akhir dari segala-galanya, akhirnya dia memutuskan gantung diri. Siswa SMA yang tidak lulus UAN merasa dia tidak berguna, akhirnya dia menggunakan Baygon. Caleg DPR yang tidak terpilih merasa tidak dihargai dan tidak terpakai, akhirnya dia lari-lari keliling kampung tidak berpakaian.

Padahal, kalau kita mau mawas diri dan memandang segala sesuatu dari sisi yang berbeda, kita akan melihat sesuatu yang positif.

Renungkan cerita berikut ini :
Ada seekor burung yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, tiba-tiba lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badan burung tersebut. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari paruh mungilnya.

Rupanya, tanpa disadari oleh burung itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba muncullah seekor kucing. Sang burung panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya, ternyata ia belum mampu, karena sayapnya masih agak membeku. Ia pun dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun di luar dugaannya, kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung, kali ini bersifat sangat simatik. Ia sama sekali. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badan burung seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung tersebut.

Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung untuk dapat terbang kembali. Namun walaupun demikian, burung ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.

Tetapi apa yang terjadi? Melihat badan burung itu telah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!

Burung di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkan selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkan dianggapnya pasti baik.

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu amat baik bagimu;
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."

(Al Baqarah, ayat 216)

Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung itu sudah membuktikannya. Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan segera bertemu dengan burung tersebut.

It's not over yet!

Dalam balapan Motogp di Catalunya Spanyol kelas 125cc - 14 Juni 2009, pembalap asal Spanyol, Julian Simon, memimpin perlombaan hingga dua etape terakhir. Namun pada saat Simon melintasi garis etape terakhir (last lap), tiba-tiba Simon mengacung-acungkan jari telunjuknya seakan-akan mengatakan :
"I am number one!".
Para official langsung pucat begitu mengetahui maksud acungan Simon, dan dengan putus asa sambil berteriak-teriak mereka memberi tanda pada Simon untuk terus melaju. Simon kaget dan dengan cepat kembali memacu motornya.
Namun upaya Simon sudah terlambat. Gelar juara sirkuit Catalunya melayang hanya gara-gara Simon merasa pertandingan sudah berakhir, dan dia tidak melihat tanda-tanda yang diberikan para officialnya.

Kita sering seperti Simon, merasa terlalu cepat puas dengan hasil yang kita dapatkan, dan tidak mengacuhkan tanda-tanda yang diberikan kepada kita. Seandainya kita mau memperhatikan tanda-tanda yang ada disekitar kita, bukan tidak mungkin hasil yang kita dapatkan lebih baik dari yang kita dapatkan sebelumnya.

Don't think it's over, until it's (really) over!

Selasa, 16 Juni 2009

In What We Pray..

"If someone prays for a piece,
Do you think God give him a piece?
He gives him an oppourtunity to be patient.

If someone prays for family to be close,
Do you think God will be sad because of this feeling?
He gives an oppourtunity to love each other.."

Sama seperti orang lain saat berdoa, saya selalu berharap doa saya dikabulkan. Bedanya, orang lain kalau doanya tidak dikabulkan akan marah-marah, kalau saya tidak.. :)

Allah berkarya dengan caraNya yang misterius, dan saya pun diingatkan olehNya lewat film "Evan Almighty"

"Kalau kamu berdoa meminta sesuatu pada Tuhan,
kamu pikir Tuhan akan memberikan yang kamu minta begitu saja?
Atau Tuhan mengajarkan kamu untuk lebih bersabar?

Kalau kamu memohon untuk bisa lebih dekat dengan seseorang,
kamu pikir Tuhan akan sedih, kemudian mendekatkan kamu?
Atau Tuhan memberi kamu kesempatan untuk lebih mengerti dan mencintai dia?"

Wow! Puitis banget khan??
Saya jadi inget waktu saya berdoa pengen dekat dengan sum1 :
"Ya Allah, kalau dia memang jodohku, dekatkanlah.. Kalau dia bukan orang yang tepat untukku, jauhkanlah.."

Lewat film ini saya jadi sadar, Mungkin, Allah tidak mau saya hanya duduk-duduk menunggu hasil "jerih payah" Allah. Tapi justru Allah menyuruh saya berusaha untuk lebih mengerti dan lebih mencintai dia..

Thank's God!

nD'Show

Siapa yang tidak kenal Desi Ratnasari? Cantik, pintar, anggun, terkenal..
Tapi, tetap saja saya tidak sreg dengan penampilannya sebagai pembawa acara yang meniru Oprah Show.
Oprah Show dan D'Show mempunyai format yang sama, pembawa acara yang sama (sama-sama wanita) dan tema yang sama yaitu mengungkap segi humanis dari nara sumber.
Yang berbeda adalah karakter pembawa acara.
Oprah lebih terlihat simpatinya dan lebih terlibat empatinya, sedangkan simpati Desi terlihat seadanya dan kurang berempati. Malah lebih terkesan menjaga jarak (lebih tepat : menjaga derajat) dan tidak mau terlibat secara emosional.
Coba saja perhatikan cara berbicara, sikap merespon, ekspresi bahasa tubuh, pandangan, dsb.
Bandingkan dengan Oprah! Beda jauhhhh...!
(Kalau Anda bandingkan dengan Deddy Corbuzier, jelas... gak ada bedanya!)

Itulah acara yang kabarnya menggusur acara D'Show lainnya (baca : Dorce Show)
Tapi, D'Show tetap nD'Show (baca : ndeso)

(click image for full size)

Kuku Kaki dan Kekhusyuan Sholat

Saya kaget banget waktu ruku pas sholat Jum'at kemarin.
Ya Allah, kuku kaki saya ternyata tumbuh dengan tidak beraturan! Yang ibu jari kukunya amat sangat maju, kemudian yang jari tengah maju seadanya, dan yang jari manis miring ke kanan..
Waduhh.. Gimana kalau jemaah sebelah kiri-kanan saya sama-sama ruku dan melihat pemandangan yang sangat tidak eksotis ini?
Akhirnya sambil mendengarkan imam kutbah, saya berpikir keras mencari jalan supaya masalah kuku kaki ini tidak mengganggu kekhusyuan sholat dan jemaah disamping saya. Setelah mempertimbangkan pilihan antara pindah tempat sholat di bagian pinggir, di bagian paling belakang atau tetap ditempat semula, akhirnya saya memutuskan tidak pindah tempat.
Alhasil, pada saat saya ruku, jari-jari kaki saya tekuk sedalam-dalamnya agar tidak terlihat oleh jemaah disamping saya. Dua kali ruku, cara itu sukses saya jalankan! Namun, tetap saja sholat saya tidak khusyu karena saya selalu berdebar-debar saat imam mendekati akhir bacaan sholat dan saat ruku saya malah berpikir tidak terlambat menekuk jari saya daripada bacaan sholatnya.
Yang saya heran, kuku kaki tumbuh butuh waktu, tidak "abraka-dabra!" langsung panjang, lalu selama ini saya saat ruku sholat melihat apa? Apakah lebih memperhatikan keindahan sajadah daripada perkembangan kuku kaki? (tips : 1. Jangan pernah menggunakan sajadah yang berwarna-warni, apalagi yang ada foto artisnya, 2. Jangan pernah sholat bersajadah koran, karena beritanya akan mengganggu bacaan sholat)
So, siapa bilang merawat kuku itu tidak penting?