Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering merasa terlalu cepat mengambil kesimpulan atas apa yang kita alami. Misalnya, pegawai yang di-PHK merasa inilah akhir dari segala-galanya, akhirnya dia memutuskan gantung diri. Siswa SMA yang tidak lulus UAN merasa dia tidak berguna, akhirnya dia menggunakan Baygon. Caleg DPR yang tidak terpilih merasa tidak dihargai dan tidak terpakai, akhirnya dia lari-lari keliling kampung tidak berpakaian.
Padahal, kalau kita mau mawas diri dan memandang segala sesuatu dari sisi yang berbeda, kita akan melihat sesuatu yang positif.
Renungkan cerita berikut ini :Ada seekor burung yang sedang terbang di musim salju. Karena mengalami kedinginan yang amat sangat, sayapnya membeku sehingga tidak bisa dikepakkannya lagi. Ia pun jatuh di sebuah tanah lapang. Setelah beberapa lama terbaring kedinginan, tiba-tiba lewat seekor sapi yang tanpa sengaja membuang kotorannya tepat menimpa badan burung tersebut. Kontan sumpah serapah pun segera meluncur keluar dari paruh mungilnya.
Rupanya, tanpa disadari oleh burung itu, hangatnya kotoran sapi yang menimpanya lambat laun membuat suhu tubuhnya berangsur normal. Ketika ia sedang bersiap-siap akan terbang kembali, tiba-tiba muncullah seekor kucing. Sang burung panik dan ingin secepatnya terbang menghindar. Tetapi sayangnya, ternyata ia belum mampu, karena sayapnya masih agak membeku. Ia pun dengan ketakutan yang amat sangat terpaksa pasrah saja menerima nasib. Namun di luar dugaannya, kucing yang biasanya tidak pernah ramah terhadap burung, kali ini bersifat sangat simatik. Ia sama sekali. Ia sama sekali tidak mengganggunya, bahkan menjilat-jilati badan burung seolah-olah ingin membersihkan sisa-sisa kotoran sapi yang melekat pada bulu-bulunya. Sehingga akhirnya bersihlah seluruh badan burung tersebut.
Hangatnya kotoran sapi serta jilatan kucing itu rupanya mampu memulihkan kondisi burung untuk dapat terbang kembali. Namun walaupun demikian, burung ini ternyata belum mau terbang. Rupanya ia menikmati jilatan kucing itu sebagai perlakuan yang memanjakannya. Maka ia pun membiarkan dirinya tetap terbaring sambil berpura-pura masih kedinginan, dengan harapan semoga kucing itu akan menjilatinya lagi.
Tetapi apa yang terjadi? Melihat badan burung itu telah bersih, maka kucing itu pun dengan ganasnya menerkam burung yang bodoh itu!
Burung di atas melambangkan perumpamaan orang yang hanya pandai melihat yang tersurat saja. Baginya sesuatu yang tidak menyenangkan selalu dianggapnya buruk, dan kejadian yang menyenangkan dianggapnya pasti baik.
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal itu amat baik bagimu;
dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu,
padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
(Al Baqarah, ayat 216)
Boleh jadi kita belum yakin sepenuhnya dengan firman Allah ini, tetapi yang pasti burung itu sudah membuktikannya. Dan bila kita tetap terpana dengan yang tersurat saja, bukan tidak mungkin kita akan segera bertemu dengan burung tersebut.